Jakarta baru saja dibilas hujan badai. Di luar, suara klakson terdengar samar bersaing dengan sisa-sisa petir yang menjauh. Namun, di dalam kafe tersembunyi di sudut Menteng ini, waktu seolah kehilangan kuasanya. Wangi kayu ek yang tua bercampur dengan aroma kopi arabika yang pekat menciptakan perlindungan sempurna bagi mereka yang ingin menghilang sejenak.
Sarah duduk di pojok ruangan yang paling gelap. Ia mengenakan gaun sutra berwarna emerald yang jatuh dengan sempurna di bahunya. Setiap kali ia bergerak sedikit saja, kain itu berkilau tertimpa cahaya lampu gantung kuning yang redup. Di tangannya, sebuah gelas kristal berisi cairan amber berputar pelan. Ia tidak meminumnya; ia hanya menikmati bagaimana butiran es batu berdenting pelan melawan dinding kaca—sebuah suara yang kontras dengan keheningan di kepalanya.
Lalu, pintu kayu berat di depan berderit.
Seorang pria dengan mantel panjang yang masih menyimpan butiran air hujan melangkah masuk. Adrian. Tanpa perlu menoleh, Sarah tahu itu dia. Bukan karena langkah kakinya yang berat dan berwibawa, tapi karena aura dingin yang tiba-tiba berubah menjadi hangat saat pria itu mendekat. Ada aroma sandalwood dan sedikit sisa tembakau mahal yang selalu menyertai kehadiran Adrian, sebuah kombinasi yang bagi Sarah jauh lebih memabukkan daripada minuman di tangannya.
Adrian menarik kursi di hadapan Sarah tanpa meminta izin. Ia tidak langsung bicara. Matanya yang tajam mengunci pandangan Sarah, seolah sedang menelanjangi setiap pikiran yang berusaha Sarah sembunyikan.
“Sepuluh menit,” ucap Sarah pelan. Suaranya serak, seperti gesekan sutra di atas kulit. “Kau membuatku menunggu, Adrian.”
“Hujan punya cara sendiri untuk menahan seseorang agar tetap tinggal,” jawab Adrian dengan suara rendah yang bergetar tepat di saraf sensorik Sarah. “Atau mungkin, aku hanya ingin memastikan apakah kau benar-benar menungguku, atau sekadar menunggu malam ini selesai.”
Adrian mengulurkan tangannya di atas meja kayu yang dipoles mengkilap. Jemarinya yang hangat perlahan membelai punggung tangan Sarah. Sentuhan itu sangat ringan, hampir tidak terasa, namun efeknya seperti aliran listrik yang merambat naik ke lengan Sarah hingga membuat bulu kuduknya meremang.
Sarah sedikit memajukan tubuhnya. Gerakan sederhana itu membuat gaun sutranya sedikit merosot di bahu kiri, menyingkap kulit putih yang kontras dengan warna gelap ruangan. Wangi parfum vanilla dari lehernya kini memenuhi jarak yang tersisa di antara mereka.
“Kau tahu benar jawabannya,” bisik Sarah. Ia membiarkan ujung jemarinya membalas belaian Adrian, menelusuri garis-garis di telapak tangan pria itu.
Ketegangan di antara mereka bukanlah tentang apa yang diucapkan, melainkan tentang apa yang dibiarkan menggantung di udara. Udara di sekitar mereka terasa semakin berat, dipenuhi oleh keinginan yang diredam dengan sopan santun yang tipis. Adrian mendekat, hingga Sarah bisa merasakan napas hangatnya di dekat telinga.
“Malam ini masih sangat muda, Sarah,” bisik Adrian, bibirnya hampir menyentuh daun telinga Sarah. “Dan aku tidak punya niat sedikit pun untuk membiarkan hujan berhenti begitu saja.”
Sarah hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh rahasia yang hanya bisa dimengerti oleh mereka yang paham bahwa keindahan sejati seringkali berada pada apa yang tidak terucap. Di bawah meja, jemari mereka saling bertautan, mengunci janji yang tak butuh saksi selain rintik hujan yang kembali menderu di luar jendela

