Episode 6: Yang Tidak Pernah Dia Ceritakan
Seharusnya aku sudah tahu…
bahwa tidak ada yang benar-benar sederhana dari dia.
Malam setelah pertemuan di kafe itu, aku tidak bisa berhenti memikirkan kata-katanya.
“Kalau kamu lanjut… kamu bakal tahu semuanya.”
Semua.
Kata itu terasa semakin berat setiap kali aku mengulangnya di kepala.
Aku tidak langsung bertemu dengannya lagi.
Tidak ada ketukan.
Tidak ada pesan.
Hanya diam.
Dan justru itu yang membuat pikiranku semakin kacau.
Sampai akhirnya, sore itu—
aku melihat sesuatu yang tidak seharusnya aku lihat.
Di dekat area parkiran kos, aku melihat dia.
Tapi dia tidak sendirian.
Ada seorang pria paruh baya berdiri di depannya.
Wajahnya serius. Suaranya pelan tapi tegas.
Aku tidak mendengar jelas, tapi aku bisa melihat bahasa tubuhnya.
Bukan percakapan biasa.
Lebih seperti… konfrontasi.
Dia terlihat berbeda.
Tidak seperti saat bersamaku.
Tidak ada senyum.
Tidak ada permainan.
Hanya… diam.
Dan tatapan yang jauh lebih dingin.
Aku mundur sedikit, bersembunyi di balik sudut tembok.
Tapi mataku masih melihat semuanya.
Pria itu mengangkat tangan, menunjuk sesuatu di arah kos.
Dia menggeleng.
Pelan.
Tapi tegas.
Lalu pria itu pergi.
Dan dia berdiri sendirian.
Tidak bergerak.
Tidak menoleh.
Seolah baru saja kehilangan sesuatu… atau menahan sesuatu.
Aku tidak tahu kenapa… tapi aku berjalan mendekat.
“Kamu kenal dia?” tanyaku akhirnya.
Dia tidak langsung menjawab.
Beberapa detik.
Lalu dia tertawa kecil.
Bukan tawa bahagia.
Lebih seperti… lelah.
“Dia bukan orang baru,” katanya pelan.
Aku mengernyit.
“Siapa dia?”
Dia menatapku lama.
Sangat lama.
Lalu berkata sesuatu yang membuat udara terasa lebih berat:
“Orang yang dulu pernah bilang… aku harus berhenti main sama ‘dinding’.”
Aku diam.
Kata itu kembali lagi.
Dinding.
“Jadi semua ini… bukan pertama kali?” tanyaku pelan.
Dia mengangguk.
Pelan sekali.
Dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya…
dia terlihat tidak sedang mengendalikan situasi.
“Aku selalu punya cara yang sama,” katanya pelan.
“Karena aku tidak pernah mau orang terlalu dekat.”
Aku mengernyit.
“Kenapa?”
Dia menatapku.
Dan kali ini… tidak ada permainan di matanya.
“Karena setiap kali aku dekat… mereka selalu tahu terlalu banyak.”
Aku mulai mengerti.
Ini bukan sekadar permainan.
Ini kebiasaan.
Pola.
Sebuah cara untuk menjaga jarak dari sesuatu… atau seseorang.
“Terus aku ini apa?” tanyaku akhirnya.
Pertanyaan itu keluar lebih cepat dari pikiranku.
Dia terdiam.
Untuk pertama kalinya… dia tidak langsung menjawab.
Angin sore lewat di antara kami.
Dan untuk sesaat… aku merasa semua ketukan, lorong, dan malam-malam itu… bukan hal acak.
Tapi bagian dari sesuatu yang lebih besar.
“Aku belum tahu,” katanya akhirnya.
Jujur.
Terlalu jujur.
Dan itu justru membuat semuanya terasa lebih berbahaya.

