Episode 2: Kode di Tengah Malam
Ketukan itu masih terngiang di kepalaku.
Tok… tok… tok…
Aku duduk di tepi kasur, menatap dinding tipis yang memisahkan kamar kami.
Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya—bukan karena takut… tapi karena rasa penasaran yang sulit dijelaskan.
Perlahan, aku mengetuk balik.
Tok… tok…
Sunyi sejenak.
Lalu—
Tok… tok… tok… tok…
Lebih cepat. Lebih panjang.
Seolah dia mulai mengatur ritme… membuat semacam “kode” yang hanya kami berdua mengerti.
Aku tersenyum tanpa sadar.
Ini gila.
Aku bahkan belum benar-benar mengenalnya.
Tapi malam itu, kami seperti sedang berbicara… tanpa kata.
Beberapa menit berlalu.
Ketukan itu berhenti.
Aku mengernyit, menunggu… tapi tidak ada balasan lagi.
Sunyi.
Hanya suara hujan yang kini mulai reda, menyisakan tetesan air dari atap.
Aku hampir kembali berbaring ketika—
Klik.
Suara pintu kamar sebelah terbuka.
Aku menoleh ke arah pintuku sendiri.
Ada dorongan aneh… spontan… yang membuatku berdiri dan melangkah keluar.
Lorong kos itu remang-remang. Lampu kuning redup menggantung di tengah, menciptakan bayangan panjang di lantai.
Dan di ujung lorong…
dia berdiri.
Wanita itu.
Rambutnya masih sedikit basah, tapi kali ini dia terlihat lebih santai. Kaos tipis dan celana pendek yang sederhana—tapi entah kenapa justru membuat suasana terasa lebih… dekat.
“Kamu juga belum tidur?” tanyanya pelan.
Aku menggeleng.
“Denger… suara ketukan tadi?”
Dia tersenyum.
Bukan senyum malu.
Bukan juga senyum basa-basi.
Lebih seperti… dia sudah tahu jawabannya.
“Denger,” katanya singkat.
Kami saling diam beberapa detik.
Jarak kami hanya beberapa langkah… tapi rasanya seperti ada sesuatu yang menahan untuk mendekat.
“Atau…” dia melangkah satu langkah lebih dekat, “kamu yang mulai duluan?”
Aku tertawa kecil. “Kayaknya bukan.”
Dia mengangguk pelan, lalu menyandarkan bahunya ke dinding lorong—tepat di antara kamar kami.
“Lucu ya,” katanya, menatap lurus ke arahku, “kadang orang bisa lebih jujur… waktu nggak saling lihat.”
Kalimat itu terasa dalam.
Aku melangkah mendekat. Sekarang jarak kami tinggal satu langkah.
“Apa yang kamu maksud?” tanyaku.
Dia tidak langsung menjawab.
Tatapannya turun sebentar, lalu kembali ke mataku.
“Misalnya…” katanya pelan, “kalau lewat dinding, kamu bisa pura-pura berani.”
Jantungku berdegup lebih keras.
“Terus sekarang?” tanyaku.
Dia tersenyum tipis.
“Sekarang… kita lihat, kamu tetap berani atau nggak.”
Angin malam masuk dari ujung lorong, membuat suasana makin dingin.
Tapi anehnya… aku tidak merasakan dingin sama sekali.
Kami berdiri saling berhadapan.
Dekat. Terlalu dekat untuk ukuran dua orang yang baru kenal beberapa jam.
“Aku belum tahu namamu,” kataku akhirnya.
Dia mengangkat alis sedikit.
“Belum perlu,” jawabnya santai.
“Kenapa?”
Dia mendekat sedikit lagi. Kini aku bisa merasakan napasnya—hangat, kontras dengan udara malam.
“Biar lebih seru,” bisiknya pelan.
Aku terdiam.
Permainan ini… jelas bukan kebetulan.
Dia yang mengatur ritmenya.
Tiba-tiba dari arah dapur kecil di ujung lorong, terdengar suara sesuatu jatuh.
Klang.
Kami berdua menoleh bersamaan.
Dia tertawa pelan.
“Kayaknya kita ganggu yang lain,” katanya.
Aku mengangguk. “Atau kita yang lagi diganggu.”
Dia menatapku lagi. Lama.
Lalu tanpa berkata apa-apa, dia berjalan melewatiku… menuju dapur.
Langkahnya pelan, santai… seolah yakin aku akan mengikutinya.
Dan memang… aku ikut.
Dapur itu kecil. Hanya ada meja, kompor, dan lampu putih yang sedikit berkedip.
Dia berdiri di dekat wastafel, membelakangiku.
“Aneh ya,” katanya tanpa menoleh, “baru pindah… tapi rasanya kayak udah kenal lama.”
Aku bersandar di pintu.
“Mungkin karena kamu yang mulai duluan,” jawabku.
Dia tertawa kecil.
“Bisa jadi.”
Dia lalu menoleh, menatapku lagi.
Tatapan yang sama seperti pertama kali—tenang, tapi penuh sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.
“Besok malam…” katanya pelan, “kalau kamu masih belum bisa tidur…”
Dia berhenti sejenak.
Lalu melanjutkan—
“kita lanjut ‘ngobrol’ lewat dinding lagi.”
Dia berjalan melewatiku lagi.
Kali ini lebih dekat.
Sangat dekat.
Hampir menyentuh.
Tapi tetap… tidak benar-benar.
Saat dia sampai di depan pintu kamarnya, dia berhenti.
Menoleh sedikit ke arahku.
“Jangan telat ya,” katanya singkat.
Lalu masuk… dan menutup pintu.
Klik.
Aku berdiri di lorong, sendirian.
Tapi perasaan itu masih tertinggal.
Ketegangan. Rasa penasaran.
Dan sesuatu yang jauh lebih dalam…
Permainan ini baru saja dimulai.
Dan kali ini… bukan cuma lewat dinding.

