Rahasia di Balik Pintu Kos

Ketukan yang sempat hilang kini kembali—lebih nyata dan lebih dekat. Saat mencoba menghadapi apa yang terjadi, perlahan terungkap bahwa ini bukan sekadar kenangan atau perasaan yang belum selesai. Ada sesuatu yang tertinggal, sesuatu yang tidak pernah benar-benar pergi… dan kini mulai menunjukkan dirinya.

Episode 18: Bukan Sekadar Kenangan

Aku tidak tidur malam itu.


Ketukan itu…

terlalu nyata untuk diabaikan.


Aku duduk di tepi tempat tidur.

Menatap pintu.


Menunggu.


Tapi tidak ada suara lagi.


Hening.


Sampai pagi.


Aku mencoba meyakinkan diri—

mungkin itu hanya perasaan.


Atau sisa dari semua yang sudah terjadi.


Tapi jauh di dalam—

aku tahu…

itu bukan.


Hari itu aku tidak pergi kerja.


Bukan karena malas.


Tapi karena aku tidak bisa fokus.


Pikiranku hanya kembali ke satu hal:


ketukan itu.


Malam datang lagi.


Aku berdiri di depan pintu.


Kali ini—

aku tidak menunggu.


Aku yang mengetuk duluan.


Tok… tok…


Sunyi.


Aku tersenyum kecil.


“Gila…” bisikku.


Aku hendak berbalik—


Tok.


Sekali.

Pelan.


Dari dalam.


Jantungku langsung berhenti sejenak.


“Aku tahu ini kamu,” kataku pelan.


Tidak ada jawaban.


Hanya hening.


Aku mendekat.

Menempelkan telingaku ke pintu.


Tidak ada suara napas.

Tidak ada gerakan.


Tapi aku tahu—

ada sesuatu di sana.


Tanganku menyentuh gagang pintu.


Kali ini…

aku tidak ragu.


Klik.


Pintu terbuka perlahan.


Ruangan itu—


gelap.


Bukan seperti kamarku.


Lebih gelap.

Lebih dingin.


Aku melangkah masuk.


Perasaan itu langsung datang lagi.


Familiar.


Seperti…

aku pernah di sini.


Tapi ini kamarku.


Seharusnya.


“Ada siapa?” tanyaku pelan.


Tidak ada jawaban.


Aku melangkah lebih dalam.


Dan saat aku melihat ke arah cermin—


aku berhenti.


Di sana…

bukan cuma aku.


Ada bayangan lain.


Berdiri di belakangku.


Aku langsung menoleh.


Tidak ada siapa-siapa.


Aku kembali melihat ke cermin—


bayangan itu masih ada.


Dan kali ini…

lebih dekat.


Jantungku berdetak semakin cepat.


“Itu kamu?” bisikku.


Bayangan itu tidak bergerak.


Tapi aku tahu—

itu bukan aku.


Dan untuk pertama kalinya…

aku mulai mengerti.


Ini bukan sekadar kenangan.


Bukan sekadar perasaan.


Sesuatu dari masa itu…

tidak pernah benar-benar pergi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *