Episode 17: Ketukan yang Sama
Aku masih berdiri di depan pintu.
Tok… tok…
Suara itu jelas.
Bukan imajinasi.
Jantungku berdetak lebih cepat.
Aku tahu ritme itu.
Terlalu tahu.
Tapi kali ini—
itu dari luar.
Aku menarik napas pelan.
Tanganku menyentuh gagang pintu.
Berhenti.
Untuk beberapa detik…
aku ragu.
Karena aku tahu—
kalau aku buka…
semuanya bisa kembali.
Dan aku tidak yakin aku siap.
Tok… tok… tok…
Lebih cepat sekarang.
Seperti tidak sabar.
Aku menutup mata sebentar.
Lalu—
klik.
Pintu terbuka.
Tidak ada siapa-siapa.
Lorong itu kosong.
Sunyi.
Lampu redup seperti biasa.
Aku mengernyit.
“Aneh…”
Aku melangkah keluar sedikit.
Melihat ke kanan.
Ke kiri.
Tidak ada.
Aku kembali masuk.
Menutup pintu.
Dan saat aku berbalik—
Tok.
Aku langsung membeku.
Suara itu…
sekarang dari dalam.
Aku menoleh pelan.
Pintu.
Ketukan itu datang dari sisi yang sama—
tapi aku sudah di dalam.
Jantungku mulai berdetak lebih keras.
“Ini nggak mungkin…”
Tok… tok…
Aku mendekat perlahan.
Tanganku gemetar sedikit.
Aku tahu suara itu.
Dan aku tahu—
ini bukan kebetulan.
“Kalau ini kamu…” bisikku pelan,
“…berhenti.”
Hening.
Lalu—
suara itu berhenti.
Aku menatap pintu beberapa detik.
Tidak bergerak.
Tidak ada suara lagi.
Aku menghela napas panjang.
Mungkin…
hanya perasaanku.
Aku berbalik.
Langkahku baru dua—
Tok…
Sekali.
Pelan.
Aku menutup mata.
Dan untuk pertama kalinya…
aku merasa—
ini belum selesai.

