Episode 13: Saat Semuanya Pecah
Aku mulai sadar…
ini tidak akan berakhir baik.
Tapi anehnya—
aku tetap tidak berhenti.
Hari-hari terasa kabur.
Aku tidak lagi menghitung waktu.
Tidak peduli siapa yang melihat.
Yang penting…
aku tetap di sana.
Di kamarnya.
Bersamanya.
“Kamu berubah terlalu cepat,” katanya suatu malam.
Nada suaranya tidak seperti biasanya.
Bukan dingin.
Bukan tenang.
Tapi… khawatir.
“Bukannya kamu yang bilang aku berubah?” jawabku santai.
Dia tidak tersenyum.
“Itu sebelum kamu mulai kehilangan diri kamu sendiri.”
Kalimat itu—
mengenai.
Tapi aku tidak menunjukkannya.
“Aku tahu apa yang aku lakukan,” kataku.
Dia langsung mendekat.
Lebih dekat dari biasanya.
“Enggak,” katanya pelan.
“Kamu cuma merasa tahu.”
Hening.
Untuk beberapa detik…
tidak ada yang bicara.
“Tapi kamu tetap di sini,” lanjutku.
Dia menatapku.
“Iya.”
Jawaban itu cepat.
Terlalu cepat.
“Kenapa?” tanyaku.
Dia terdiam.
Dan itu…
sudah cukup jadi jawaban.
Aku tersenyum kecil.
“Kita sama-sama nggak bisa berhenti.”
Dia menggeleng.
“Aku masih bisa berhenti.”
Aku tertawa pelan.
“Kalau bisa, kamu sudah lakukan dari dulu.”
Kalimat itu…
mengubah sesuatu.
Ekspresinya berubah.
Bukan marah.
Tapi… tersinggung.
“Jangan samakan aku sama kamu,” katanya tegas.
Aku mengangkat alis.
“Kenapa? Takut?”
Hening.
Dan itu kesalahan.
Dalam satu gerakan cepat—
dia mendorongku ke dinding.
Tidak terlalu keras.
Tapi cukup untuk membuatku diam.
Tatapannya tajam sekarang.
“Kamu mulai berbahaya,” katanya pelan.
Jantungku berdetak lebih cepat.
Tapi bukan karena takut.
Justru sebaliknya.
“Aku belajar dari kamu,” jawabku.
Hening.
Dan untuk pertama kalinya…
dia tidak punya jawaban.
Aku bisa melihatnya—
dia mulai kehilangan kendali.
Dan entah kenapa…
itu membuatku merasa menang.
“Kamu pikir ini permainan?” katanya.
Aku mendekat sedikit.
“Bukannya dari awal memang itu?”
Dia menggeleng pelan.
“Ini sudah bukan permainan.”
Aku tersenyum.
“Terlambat.”
Kalimat itu keluar tanpa pikir panjang.
Dan begitu aku mengatakannya—
aku tahu…
tidak ada jalan balik.
Dia mundur perlahan.
Menatapku dengan cara yang berbeda.
Bukan seperti sebelumnya.
Bukan seperti orang yang mengontrol.
Tapi seperti orang yang mulai menyadari—
dia kehilangan sesuatu.
“Ini bakal hancur,” katanya pelan.
Aku tidak menjawab.
Karena dalam hati…
aku juga mulai merasakannya.
Tapi aku tidak peduli.
“At least kita tahu rasanya,” kataku.
Dia menutup mata.
Seolah mencoba menahan sesuatu.
Lalu berkata:
“Kamu nggak tahu apa yang kamu mulai.”
Aku tersenyum tipis.
“Dan kamu nggak bisa menghentikannya.”
Hening.
Dan di antara kami—
bukan lagi ketegangan.
Tapi sesuatu yang lebih berbahaya:
ketergantungan yang mulai pecah.

