Hutang di Atas Mahoni

Di lantai tertinggi Paris, negosiasi bukan lagi soal angka. Bagi Elena, membayar hutang keluarganya kepada Julian berarti harus menyerahkan kendali sepenuhnya—di bawah pendar lampu emas yang membakar keheningan.

Hujan bulan April membasahi kaca jendela besar penthouse itu, mengaburkan siluet Menara Eiffel di kejauhan. Di dalam, suasana begitu tenang namun sarat dengan ketegangan elektrik. Aroma wiski tua dan kayu cendana memenuhi ruangan yang hanya diterangi oleh lampu meja sculptural berbahan emas dan marmer.

Elena duduk di tepi meja mahoni yang luas. Gaun beludru merahnya kontras dengan gelapnya ruangan, memeluk lekuk tubuhnya dengan cara yang provokatif. Ia bisa merasakan dinginnya permukaan meja di bawah jemarinya, namun jantungnya berdegup karena panas yang lain.

“Kau datang terlambat, Elena,” suara Julian rendah, muncul dari balik bayangan rak buku.

Pria itu melangkah maju. Kemeja hitamnya terbuka di bagian kerah, memperlihatkan garis rahang yang tegas. Julian tidak berhenti sampai ia berada tepat di hadapan Elena. Ia menumpukan kedua tangannya di atas meja, mengurung Elena di antara lengannya yang kokoh.

“Aku punya syarat baru untuk hutangmu,” bisik Julian. Wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Elena. Pendar emas dari lampu di samping mereka menyoroti tato benang hitam yang melingkar di pergelangan tangannya—sebuah simbol kendali yang sudah sangat Elena kenal.

Elena mendongak, menantang mata gelap Julian. “Syarat apa lagi, Julian? Bukankah kau sudah mengambil semuanya?”

Julian tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya. Jemarinya yang kasar perlahan merayap dari permukaan meja, menyentuh pergelangan tangan Elena, lalu naik perlahan menuju bahunya yang terbuka.

“Aku belum mengambil pengakuanmu,” Julian mencondongkan tubuh, bibirnya nyaris menyentuh telinga Elena. “Aku ingin kau mengatakan bahwa kau tidak membenci sentuhan ini. Bahwa kau menginginkan jeratan ini lebih dari kebebasanmu.”

Tangan Julian bergerak ke belakang leher Elena, jemarinya menyelusup di antara helai rambut suteranya. Ia menarik napas dalam, menghirup aroma parfum Elena yang memabukkan. Di bawah cahaya emas yang redup, ruangan itu seolah menyempit, hanya menyisakan mereka berdua dan sebuah perjanjian yang tidak akan pernah tertulis di atas kertas.

“Katakan, Elena,” tuntut Julian dengan suara yang lebih berat.

Elena memejamkan mata, merasakan jemari Julian yang dominan di kulitnya. “Aku… aku milikmu malam ini, Julian. Lakukan apa pun yang kau mau untuk melunasi hutang itu.”

Di luar, petir menyambar, menerangi ruangan sekejap, namun fokus Julian hanya pada bibir Elena yang bergetar. Malam ini, di atas lantai marmer hitam Paris, sebuah pengkhianatan terhadap logika baru saja dimulai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *