Dissonansi di Kotak Nomor Sembilan

Pertunjukan telah lama usai, namun bagi Victor, panggung yang sebenarnya baru saja dimulai di kegelapan balkon opera. Di sana, di balik tirai beludru hitam, ia menuntut balasan atas gaun sutra yang ia jahit langsung di tubuh Maya.

Gedung opera itu terasa seperti makam raksasa yang megah. Aroma debu tua, lilin yang padam, dan parfum mawar yang memudar memenuhi udara yang dingin. Maya berdiri di balkon pribadi—Kotak Nomor Sembilan—menatap panggung kosong yang jauh di bawah sana.

Ia mengenakan gaun sutra hitam yang sangat tipis, mahakarya Victor yang paling berbahaya. Begitu tipis hingga setiap embusan napas Maya terlihat jelas di bawah pantulan cahaya bulan yang menembus jendela kaca patri.

“Aku tidak menyuruhmu untuk pergi, Maya,” suara Victor muncul dari balik bayangan tirai beludru.

Victor melangkah masuk ke lingkaran cahaya kecil dari satu-satunya lampu dinding yang masih menyala. Ia masih mengenakan setelan tuksedo yang sempurna, namun dasi kupu-kupunya sudah terlepas, menggantung longgar di lehernya. Tangan kanannya, yang dihiasi tato benang hitam, memegang sebuah topeng porselen yang retak.

Julian—atau Victor, bagi dunia luar—mendekati Maya dengan langkah yang tidak bersuara di atas karpet merah yang tebal. Ia berdiri di belakangnya, membiarkan dadanya nyaris bersentuhan dengan punggung Maya.

“Kau melarikan diri sebelum nada terakhir dimainkan,” bisik Victor, suaranya seperti gesekan biola yang rendah. “Kau tahu aku benci jika karyaku tidak diselesaikan.”

Victor meletakkan topeng porselen itu di langkan balkon dan mengulurkan tangannya. Jemarinya yang dingin merayap ke bahu Maya, perlahan menyingkap tali sutra tipis gaun itu. Maya gemetar, bukan karena dingin, melainkan karena cara Victor menatapnya melalui pantulan kaca di depan mereka—tatapan seorang pemilik yang menemukan kembali miliknya.

“Hutangmu malam ini bukan lagi soal uang atau ketenaran, Maya,” Victor berbisik tepat di tengkuknya, bibirnya menyentuh kulit Maya dengan lembut namun posesif. “Malam ini, kau akan menjadi musik yang hanya bisa kudengar di kegelapan ini.”

Victor memutar tubuh Maya hingga wanita itu terdesak ke sandaran balkon yang dingin. Di bawah bayangan noir yang pekat, Victor menarik ritsleting tersembunyi di samping gaun itu. Suara logam yang halus memecah kesunyian opera, menandai penyerahan total yang tidak bisa lagi dihindari.


Tags untuk Postingan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *