Beludru Merah di Lantai Marmer Bagian 1: Benang yang Menjerat

Di balik megahnya panggung runway Paris, ada sebuah aturan yang tidak tertulis: Jangan pernah jatuh cinta pada sang desainer. Bagi Maya, aturan itu hancur saat tangan dingin Victor menyentuh kulitnya untuk menyesuaikan gaun terakhir malam itu.

Ruang ganti utama Maison de Victor sangat sunyi, berbanding terbalik dengan kebisingan musik techno yang menggelegar dari arah panggung di luar. Aroma parfum mahal, alkohol, dan uap setrika memenuhi udara yang tipis.

Maya berdiri mematung di tengah ruangan, mengenakan gaun beludru merah yang begitu berat namun terasa seperti kulit kedua. Gaun itu belum selesai; bagian punggungnya masih terbuka lebar, memperlihatkan garis tulang belakang Maya yang halus di bawah lampu kristal.

“Jangan bergerak,” suara itu muncul dari kegelapan di belakangnya. Rendah, serak, dan penuh otoritas.

Victor melangkah maju. Sang maestro mode itu tidak memakai jasnya; kemeja hitamnya digulung hingga siku, memperlihatkan tato benang hitam yang melingkar di pergelangan tangannya. Ia membawa jarum pentul di antara bibirnya.

Victor berlutut di belakang Maya. Tangan dinginnya menyentuh pinggang Maya untuk menarik kain beludru itu agar lebih ketat. Maya tersentak kecil, napasnya tertahan. Sentuhan itu tidak kasar, tapi sangat menuntut.

“Kau terlalu banyak bergerak, Maya. Apakah kain ini menyakitimu, atau kau yang ketakutan?” Victor melepaskan jarum dari bibirnya, lalu menancapkannya ke kain, hanya beberapa milimeter dari kulit Maya.

“Kainnya… terlalu ketat, Monsieur,” bisik Maya, mencoba menjaga suaranya agar tidak bergetar.

Victor berdiri, kini posisinya sangat dekat di belakang Maya hingga Maya bisa merasakan hembusan napas hangat pria itu di ceruk lehernya yang terbuka. Victor mengulurkan tangannya, bukan untuk membetulkan gaun, melainkan untuk menyingkirkan anak rambut Maya ke samping.

“Gaun ini dirancang untuk menjerat, bukan untuk membebaskan,” bisik Victor tepat di telinga Maya. “Sama sepertiku. Sekali kau memakainya, kau tidak akan pernah bisa lepas.”

Victor menarik ritsleting tersembunyi di samping gaun itu dengan gerakan lambat yang sengaja. Suara gesekan logamnya terdengar provokatif di ruangan yang sunyi itu. Maya memejamkan mata saat jemari Victor yang panjang meraba sepanjang garis jahitan yang kini memeluk tubuhnya dengan sempurna.

“Sekarang, pergilah ke panggung,” perintah Victor, seraya meletakkan tangannya di bahu Maya, mencengkeramnya dengan tekanan yang intim. “Tunjukkan pada dunia bahwa kau adalah milikku malam ini.”

Maya melangkah menuju cahaya panggung, merasakan berat beludru itu dan… tanda kepemilikan yang ditinggalkan Victor di kulitnya.

(Bersambung ke Bagian 2…)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *