Bagian 4: Takhta di Balik Kabut
SUV Jerman itu berhenti perlahan di depan gerbang besi besar yang tertutup rapat. Di balik gerbang, menjulang sebuah villa modern berlantai dua dengan arsitektur kaca dan batu alam, tersembunyi di balik barisan pohon pinus yang pekat. Kabut tebal menyelimuti pelataran, membuat segalanya terlihat seperti mimpi buruk yang indah.
Pintu mobil terbuka, dan udara dingin Puncak langsung menusuk ke tulang. Arya turun, menarik napas panjang, mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup kencang sejak bisikan terakhir Renata di mobil.
“Selamat datang di kerajaanku, Arya,” suara Renata terdengar jernih dan tajam, memecah kesunyian malam. Ia turun dari mobil, jubah sutera hitamnya berkibar pelan tertiup angin dingin.
Renata tidak melangkah menuju pintu utama. Ia berjalan menuju sebuah balkon besar yang menjorok keluar, menghadap langsung ke lembah yang tertutup kabut. Arya mengikutinya perlahan, setiap langkah terasa berat.
Di balkon, hanya ada sebuah kursi lounge panjang dengan sandaran beludru hitam, dikelilingi oleh lampu sorot tunggal yang menyorotkan pendar oranye hangat dari lantai. Di meja kecil di sebelahnya, sudah tersedia botol whiskey kristal dan dua gelas.
Renata duduk di kursi lounge, menyilangkan kakinya dengan keanggunan seorang ratu yang sedang duduk di takhtanya. Ia tidak menatap Arya. Ia menatap kabut di lembah.
“Aturan nomor satu, Arya,” kata Renata pelan, namun setiap kata terasa seperti perintah yang tak bisa dibantah. “Mulai detik ini, kau tidak boleh bicara sebelum aku bertanya. Dan kau tidak boleh menyentuhku sebelum aku mengizinkannya.”
Arya terdiam, lidahnya seolah kelu. Ketegangan di antara mereka bukan lagi soal bisnis, melainkan soal penyerahan kendali yang mutlak.
“Tuangkan minumanku,” perintah Renata, seraya mengulurkan gelas kristalnya.
Arya melangkah maju, mendekati meja kecil. Ia mengambil botol whiskey dengan tangan yang sedikit gemetar. Pendar cahaya sorot menyorot punggungnya yang tegang, sementara wajahnya sebagian besar tersembunyi dalam bayangan kabut.
Renata menatap Arya yang sedang menuangkan minuman, sebuah senyum tipis—hampir tak terlihat—menghiasi bibirnya. “Kau terlihat lebih pantas seperti ini, Arya. Tanpa topeng kekuasaan itu.”
Arya meletakkan botol itu kembali, lalu menyerahkan gelas kristal itu kepada Renata. Jarak mereka hanya beberapa sentimeter. Ia bisa melihat butiran embun di rambut Renata dan harum melati yang kini bercampur dengan aroma kabut yang basah.
“Aturan nomor dua,” bisik Renata, seraya mengambil gelas itu tanpa melepaskan tatapannya dari mata Arya. “Berlutut.”
(Bersambung ke Bagian 5…)

