Bagian 3: Ruang Kedap di Balik Kaca Gelap
Suara mesin SUV Jerman itu nyaris tak terdengar, hanya deru halus ban yang melindas aspal basah jalan tol menuju Puncak. Di dalam kabin, pencahayaan ambient berwarna biru safir menyapu lekuk interior kulit premium, menciptakan suasana yang dingin namun mencekam.
Arya duduk di kursi belakang, bahunya bersandar kaku. Ia menatap ke luar jendela, melihat lampu-lampu kota yang perlahan berubah menjadi deretan pohon pinus yang gelap dan berkabut. Di sebelahnya, hanya berjarak satu sandaran tangan, Renata duduk dengan keanggunan yang mengintimidasi.
“Kau terlihat seperti narapidana yang menuju tiang gantungan, Arya,” suara Renata memecah kesunyian, seringan denting es batu di dalam gelas kristalnya.
Arya menoleh perlahan. Ia melihat Renata sedang menyesap minuman amber, matanya yang tajam memantulkan pendar biru dari dashboard. “Bagi pria yang baru saja menyerahkan kebebasannya demi tanda tangan di atas materai, istilah ‘narapidana’ mungkin terlalu halus.”
Renata menurunkan gelasnya, membiarkan jemarinya yang lentur mengelus pinggiran kristal itu. “Kebebasan adalah beban bagi mereka yang tidak tahu cara menggunakannya. Di villa nanti, kau akan berterima kasih karena aku telah mengambil beban itu darimu.”
Mobil berguncang pelan saat melewati tikungan tajam. Tubuh Renata condong ke arah Arya, helai rambut hitamnya sempat menyapu lengan kemeja Arya yang digulung. Harum melati itu kembali muncul, kali ini lebih pekat, terkurung dalam ruang kabin yang kedap suara.
Arya bisa merasakan panas tubuh Renata di sampingnya. Ia ingin menjauh, tapi ruang kabin ini seolah sengaja dirancang untuk memaksa mereka tetap dekat. “Apa yang sebenarnya kau cari, Renata? Kau punya segalanya. Kenapa harus drama ‘pelayan’ ini?”
Renata meletakkan gelasnya di cup holder, lalu berbalik menghadap Arya sepenuhnya. Ia mencondongkan tubuh, menyandarkan sikunya di atas paha Arya—sebuah gerakan yang sangat berani dan tanpa izin.
“Karena aku ingin melihat sisi Arya yang tidak pernah muncul di majalah Forbes,” bisik Renata, matanya berkilat di kegelapan. “Aku ingin melihatmu kehilangan kendali, tepat di tanganku.”
Arya menelan ludah. Di bawah tekanan tangan Renata di pahanya, ia menyadari bahwa perjalanan ini baru saja dimulai, dan villa di puncak itu bukan hanya sekadar tempat istirahat, melainkan sebuah arena di mana ia mungkin akan kehilangan lebih dari sekadar harga diri.
(Bersambung ke Bagian 4…)

