Lazuardi yang Memudar (Bagian 2: Kabut di Villa Mentari)

Gerbang besi tua itu terbuka perlahan, menyambut Lazuardi masuk ke dalam pelukan kabut. Di balik tirai beludru yang berat, Elara menunggu dengan segelas anggur dan sebuah rahasia yang terkunci rapat selama tujuh tahun.

Baca bagian sebelumnya

Mobil hitam itu berhenti tepat di depan undakan marmer Villa Mentari. Lazuardi mematikan mesin, namun jemarinya masih mencengkeram kemudi. Di hadapannya, bangunan bergaya kolonial itu berdiri kokoh, diselimuti kabut tipis yang merayap dari perbukitan seolah ingin menyembunyikan segala dosa yang mungkin terjadi di dalamnya.

Ia merapikan tuksedo hitamnya, memastikan kotak beludru di saku dalam jasnya tidak terlalu menonjol. Dengan napas yang diatur sedemikian rupa, ia melangkah keluar. Dinginnya udara pegunungan langsung menusuk kulit, namun rasa panas di dadanya jauh lebih dominan.

Pintu jati besar itu terbuka bahkan sebelum Lazuardi mengetuknya. Seorang pelayan tua berpakaian rapi membungkuk takzim tanpa suara, mempersilakannya masuk menuju aula utama yang diterangi puluhan lilin di atas tempat lilin perak.

“Nyonya sudah menunggu di ruang kurasi pribadi,” suara pelayan itu datar, seolah sudah terbiasa menyambut tamu-tamu penuh rahasia.

Lazuardi melangkah melewati lorong yang dindingnya dipenuhi lukisan abstrak bernuansa emas dan kelam. Di ujung lorong, sebuah tirai beludru berwarna merah marun yang berat menutupi pintu masuk. Ia menyibaknya perlahan.

Aroma melati itu menyerangnya seketika. Jauh lebih kuat dari tujuh tahun lalu.

Di sana, di depan perapian yang menyala, Elara berdiri. Ia mengenakan gaun sutra hitam yang melekat sempurna di tubuhnya, membelakangi Lazuardi sambil menatap lidah api yang menari. Cahaya api memberikan pendar keemasan pada kulit bahunya yang terbuka.

“Kau datang, Lazuardi,” suara Elara lembut, namun memiliki ketajaman yang sanggup mengiris kenangan.

Ia berbalik, memegang dua gelas anggur merah yang warnanya sepekat darah. Matanya—mata yang dulu pernah menjadi seluruh dunia bagi Lazuardi—kini menyimpan kabut yang lebih tebal dari yang ada di luar villa.

“Aku tidak punya alasan untuk menolak sebuah jebakan yang dikemas semanis ini,” jawab Lazuardi, melangkah mendekat hingga ia bisa mencium aroma anggur dan napas Elara.

Elara tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya. Ia menyodorkan salah satu gelas, jemarinya sengaja menyentuh kulit tangan Lazuardi saat gelas itu berpindah tangan. Sentuhan itu singkat, namun cukup untuk menghidupkan kembali bara yang seharusnya sudah padam.

“Ini bukan jebakan,” bisik Elara, wajahnya kini hanya berjarak beberapa inci dari Lazuardi. “Ini adalah penutup untuk bab yang tidak pernah kau selesaikan tujuh tahun lalu. Dan malam ini, kita akan menulis kalimat terakhirnya bersama.”

Lazuardi menyesap anggurnya, namun matanya tetap terkunci pada bibir Elara yang merah. Tepat saat ia hendak bicara, sayup-sayup terdengar suara kunci diputar dari luar pintu beludru itu.

Mereka terkunci di dalam. Berdua.

(Bersambung ke Bagian 3)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *