Kamar hotel nomor 402 itu terasa dingin, meski penghangat ruangan sudah diputar maksimal. Lazuardi menyesap wiski terakhirnya malam itu, membiarkan rasa hangat yang membakar tenggorokannya menjadi satu-satunya teman di tengah kesunyian kota yang sedang diguyur hujan.
Di hadapannya, sebuah amplop hitam dengan segel lilin merah yang elegan seolah-olah sedang menatapnya balik. Tanpa nama pengirim. Hanya ada inisial emas yang sangat ia kenal di sudut kiri bawah: “E”.
Dengan jari yang sedikit gemetar, Lazuardi merobek segel itu. Secarik kertas berwarna krem muncul, menyebarkan aroma parfum melati yang menyesakkan dada. Harum yang sama yang ia hirup tujuh tahun lalu, di bawah pohon beringin yang saksi bisu perpisahan mereka.
“Datanglah ke Villa Mentari besok malam. Kenakan pakaian terbaikmu, dan tinggalkan masa lalumu di depan gerbang. Aku menunggumu di balik tirai beludru.”
Hanya itu. Tanpa tanda tangan, tanpa penjelasan. Namun Lazuardi tahu benar, undangan ini bukan sekadar ajakan makan malam. Ini adalah undangan masuk kembali ke dalam sebuah permainan yang pernah menghancurkan hidupnya.
Ia berdiri, melangkah menuju jendela yang buram oleh uap air. Bayangan dirinya terpantul di sana—seorang pria yang tampak sukses di luar, namun menyimpan keropos di dalam.
“Kau bermain dengan api lagi, Elara,” bisiknya pada kaca yang dingin.
Lazuardi tahu ia harusnya membakar surat itu. Ia harusnya segera memesan tiket pesawat paling pagi dan pergi sejauh mungkin. Namun, rasa penasaran yang intim dan luka yang belum sembuh total justru menahan langkahnya.
Di luar, petir menyambar, menyinari ruangan sekejap dan memperlihatkan sebuah kotak beludru kecil di laci meja yang terbuka—sebuah cincin yang tak pernah sempat ia berikan.
Lazuardi menarik napas panjang. Malam ini, ia tidak akan tidur. Ia akan bersiap untuk apa pun yang menunggunya di Villa Mentari.
(Bersambung ke Bagian 2)

