Bar itu bernama The Gilded Oak. Letaknya tersembunyi di gang sempit yang luput dari perhatian para turis. Di dalamnya, aroma tembakau mahal dan kayu tua menari bersama alunan musik jazz yang malas.
Maya memutar-mutar gelas kristal berisi cairan amber di hadapannya. Ia suka cara es batu berdenting pelan—suara kesepian yang teratur. Di luar, Jakarta sedang tidak ramah; hujan turun seolah ingin menenggelamkan segala penat yang ada.
“Biasanya, orang yang memutar gelas seperti itu sedang menunggu seseorang, atau sedang berusaha melupakan seseorang,” sebuah suara bariton rendah terdengar dari kursi di sebelahnya.
Maya menoleh. Seorang pria dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku sedang memperhatikan botol anggur di rak. Wajahnya tidak muda lagi, namun memiliki garis rahang yang tegas dan mata yang tampak sudah melihat terlalu banyak dunia.
“Atau mungkin saya hanya suka mendengar suara es yang beradu,” jawab Maya tenang, kembali menatap gelasnya. “Bagaimana denganmu? Kau tidak terlihat seperti sedang menunggu atau melupakan.”
Pria itu tersenyum tipis, lalu memberi isyarat kepada barista untuk menuangkan minuman yang sama dengan milik Maya. “Aku hanya sedang berteduh. Dari hujan, dan dari kebisingan di luar sana.”
Selama satu jam berikutnya, percakapan mereka mengalir tanpa beban. Mereka tidak bertukar nama. Tidak menanyakan pekerjaan. Mereka bicara tentang buku-buku yang belum sempat selesai dibaca, tentang kota-kota yang hanya ada dalam mimpi, dan tentang alasan mengapa warna emas selalu terlihat lebih indah dalam kegelapan.
“Kau tahu,” bisik Maya saat hujan mulai mereda menjadi rintik halus. “Rasanya aneh bicara sejujur ini dengan orang asing.”
“Itu karena orang asing tidak punya ekspektasi tentang siapa dirimu seharusnya,” sahut pria itu. Ia berdiri, meletakkan beberapa lembar uang di atas meja, lalu mengenakan jasnya. “Terima kasih untuk keheningannya, Nona.”
Pria itu melangkah keluar, menghilang di balik pintu kayu besar tanpa menoleh kembali. Maya menatap gelas pria itu yang kini kosong. Di bawah gelas tersebut, terselip sebuah kartu nama berwarna hitam pekat dengan tulisan emas kecil di pojoknya: “Untuk cerita yang belum sempat kau tulis.”
Maya menyesap sisa minumannya. Ia tahu, ia tidak akan pernah menelepon nomor itu, namun ia merasa bebannya sedikit lebih ringan. Kadang, yang kita butuhkan hanyalah seorang asing yang mau mendengarkan detak jantung kita di tengah badai.

