Suara hujan deras menghantam atap seng pondok mahoni itu dengan irama yang brutal, seolah ingin merubuhkan dinding kayu yang sudah tua. Di dalam, hanya ada cahaya redup dari perapian yang nyaris padam, melemparkan bayangan panjang yang menari-nari di dinding.
Bianca berdiri di dekat jendela yang berembun, gaun sutera putihnya basah kuyup, menempel ketat di lekuk tubuhnya hingga nyaris transparan. Ia bisa merasakan hawa dingin yang menusuk, tapi panas di dalam dadanya jauh lebih membakar.
“Kau seharusnya tidak datang, Adrian,” bisik Bianca tanpa menoleh. Suaranya serak, bergetar karena dingin—dan ketakutan yang nikmat.
Adrian melangkah keluar dari kegelapan sudut ruangan. Ia tidak memakai baju, hanya celana kain hitam yang kotor oleh tanah dan air hujan. Otot-otot punggungnya berkilat terkena cahaya api, memperlihatkan sisa-sisa pertarungan atau mungkin… gairah yang tertahan.
“Suamimu sedang di Singapura, Bianca. Dan kita berdua tahu, kau tidak pernah mencintainya,” Adrian berhenti tepat di belakang Bianca. Ia tidak menyentuhnya, tapi Bianca bisa merasakan radiasi panas dari tubuh pria itu.
Adrian mengulurkan tangannya, bukan untuk memeluk, melainkan untuk menyentuh kaca jendela yang dingin di samping wajah Bianca. “Kau adalah milik yang dicuri, dan aku adalah pencuri yang tidak pernah menyesal.”
Adrian perlahan menurunkan tangannya, jemarinya yang kasar menyentuh pundak Bianca yang terbuka. Sutera basah itu bergesekan dengan kulit Bianca, menciptakan sensasi elektrik yang membuatnya memejamkan mata.
“Buka gaun ini, Bianca. Biarkan hujan melihat apa yang selama ini kau sembunyikan dari dunia,” perintah Adrian, suaranya kini seberat guntur yang menggelegar di luar.
Bianca berbalik, menatap mata Adrian yang gelap dan penuh rasa lapar yang primitif. Tanpa ragu, ia meraih jemari Adrian dan meletakkannya di atas kancing pertama gaunnya yang basah.
“Hancurkan aku, Adrian. Buat aku lupa siapa namaku sebelum pagi tiba,” desah Bianca.
Malam itu, di tengah badai yang mengamuk, pondok mahoni itu menjadi saksi bisu dari pengkhianatan yang paling kotor dan paling jujur. Tidak ada kata cinta, hanya ada keringat yang bercampur dengan air hujan, dan rintihan yang tenggelam dalam gemuruh petir. Mereka bukan lagi manusia beradab; mereka adalah dua jiwa yang terbakar dalam api obsesi yang takkan pernah padam.

