Detak di Balik Arloji Tua

Di balik pintu toko jam yang terkunci, waktu bukan lagi soal angka, melainkan soal gesekan kulit dan napas yang tertahan. Aris tahu, memperbaiki arloji wanita itu berarti membedah rahasia yang paling intim.

Aroma minyak mesin yang tajam bercampur dengan parfum musk yang berat memenuhi ruangan sempit itu. Aris bisa merasakan kehadiran wanita itu bahkan sebelum ia bicara—sebuah getaran yang merambat melalui lantai kayu mahoni, naik ke ujung sepatunya, dan menetap di dadanya.

Wanita itu melangkah mendekat, gaun satin hijaunya bergesekan lembut dengan meja kerja Aris, menciptakan suara desir yang mengganggu konsentrasinya. Ia meletakkan sebuah arloji saku perak di atas bantalan beludru hitam. Kacanya retak, seolah ada sesuatu yang dipaksa keluar dari dalamnya.

“Kau bilang kau bisa memperbaiki apa saja yang detaknya terhenti,” bisik wanita itu. Suaranya serak, rendah, dan berjarak hanya sehelai rambut dari telinga Aris.

Aris mendongak. Di bawah cahaya lampu kerja yang kuning dan panas, ia melihat butiran keringat halus di leher wanita itu. Ia mengambil arloji tersebut, namun jemarinya sengaja menyentuh telapak tangan wanita itu—dingin, namun ada api yang menyala di baliknya.

“Jam ini tidak rusak karena waktu,” ujar Aris, suaranya kini lebih berat. “Ia rusak karena terlalu banyak gairah yang dipendam. Girnya tidak kuat menahan detak jantung pemiliknya.”

Aris mulai bekerja. Dengan pinset perak, ia menyentuh bagian terdalam mesin jam itu. Setiap gesekan logam terdengar seperti rintihan kecil di ruangan yang kedap suara tersebut. Wanita itu tidak beranjak. Ia bersandar di meja, membiarkan aroma tubuhnya menguasai sisa oksigen yang ada.

“Lalu, apa yang akan kau lakukan?” tanya wanita itu, tangannya kini merayap di atas meja, mendekati jemari Aris yang sedang bekerja.

Aris meletakkan alatnya. Ia menarik tangan wanita itu, menempelkan punggung tangan tersebut ke mesin jam yang mulai berdetak kembali.

“Aku akan membiarkannya berdetak lebih lambat. Agar kau bisa menikmati setiap sentuhan, setiap embusan napas, seolah waktu tidak akan pernah habis.”

Mata mereka bertemu dalam jarak yang berbahaya. Di toko yang penuh dengan ribuan detak jam itu, hanya ada satu irama yang nyata: dua jantung yang berpacu melawan takdir. Aris tahu, malam ini ia tidak hanya memperbaiki sebuah arloji, ia sedang membuka kunci menuju sebuah labirin yang tak ingin ia tinggalkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *