Lazuardi yang Memudar (Bagian 3: Gema di Ruang Hampa)

Suara kunci yang berputar menjadi awal dari sebuah pengakuan. Di ruang kurasi yang terkunci, Lazuardi menyadari bahwa Elara bukan lagi wanita yang ia cintai tujuh tahun lalu, melainkan badai yang siap menghancurkan segalanya.

Baca bagian sebelumnya

Lazuardi tidak bergerak. Suara klik logam di balik pintu jati itu bergema di telinganya, lebih keras dari detak jantungnya sendiri. Ia menurunkan gelas anggurnya, matanya menatap tajam ke arah Elara yang masih tersenyum tipis, seolah suara kunci itu hanyalah denting musik latar yang merdu.

“Siapa yang mengunci pintunya, Elara?” suara Lazuardi kini sedingin es.

Elara menyesap anggurnya perlahan, membiarkan keheningan menggantung di antara mereka. Cahaya perapian memantul di matanya, menciptakan kilatan yang sulit dibaca. “Rumah ini punya aturannya sendiri, Lazuardi. Dia tidak suka tamu yang datang hanya untuk sekadar berkunjung, lalu pergi tanpa meninggalkan jejak.”

Lazuardi melangkah maju, kini jarak mereka hanya sehelai napas. “Tujuh tahun. Aku menghabiskan tujuh tahun mencoba menghapus aroma melati ini dari ingatanku. Dan sekarang kau mengunciku di sini? Untuk apa? Untuk sebuah permintaan maaf yang terlambat?”

Elara tertawa kecil, suara tawanya terdengar getir dan hampa. Ia meletakkan gelasnya di atas meja marmer, lalu menyentuh kerah tuksedo Lazuardi dengan jemari yang dingin. “Maaf? Tidak, Sayang. Aku tidak memanggilmu ke sini untuk mendengar maaf. Aku memanggilmu karena aku butuh saksi.”

“Saksi untuk apa?”

“Saksi untuk kehancuran yang kau mulai,” bisik Elara. Ia berbalik menuju sebuah lukisan besar yang tertutup kain hitam di sudut ruangan. Dengan satu gerakan anggun, ia menyentak kain itu hingga terjatuh ke lantai.

Lazuardi tertegun. Di balik kain itu, bukan sebuah lukisan abstrak, melainkan kumpulan foto-foto dirinya selama tujuh tahun terakhir. Foto saat ia memenangkan tender besar, foto saat ia bertunangan (yang kemudian kandas), hingga foto dirinya yang sedang duduk sendirian di bar hotel malam tadi.

“Kau menguntitku?” Lazuardi merasakan amarah mulai membakar dadanya.

“Aku menjagamu,” koreksi Elara dengan nada datar yang mengerikan. “Sambil menunggu saat yang tepat untuk menunjukkan padamu bahwa kebebasan yang kau pilih tujuh tahun lalu… sebenarnya adalah penjara yang kubangun untukmu.”

Elara melangkah menuju meja perunggu di tengah ruangan, mengambil sebuah pemantik api emas. “Kau pikir cincin di sakumu itu bisa memperbaiki segalanya malam ini?”

Lazuardi terhenyak. Bagaimana Elara bisa tahu tentang kotak beludru di saku jasnya? Sebelum ia sempat menjawab, lampu gantung kristal di atas mereka tiba-tiba berkedip dan padam, menyisakan hanya cahaya oranye dari perapian yang kian mengecil.

Dalam keremangan itu, Lazuardi merasakan dinginnya ujung logam menyentuh lehernya. Bukan pisau, melainkan sebuah kunci perak yang digantungkan Elara pada rantai tipis di lehernya sendiri.

“Hanya ada satu cara untuk keluar dari ruangan ini, Lazuardi,” bisik Elara di kegelapan. “Dan itu bukan melalui pintu.”

(Bersambung ke Bagian 4)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *