Episode 16: Setelah Semua Berakhir
Pagi terasa berbeda.
Tidak ada pesan.
Tidak ada ketukan.
Tidak ada alasan untuk pergi ke lorong itu.
Dan untuk pertama kalinya…
aku benar-benar sendirian.
Aku mencoba kembali ke rutinitas.
Bangun pagi.
Berangkat kerja.
Menjawab pesan.
Semua terlihat normal.
Tapi rasanya—
tidak.
Segalanya terasa kosong.
“Akhirnya muncul juga,” kata temanku saat melihatku.
Aku hanya tersenyum tipis.
“Lagi sibuk,” jawabku singkat.
Dia menatapku.
Lebih lama dari biasanya.
“Kamu kelihatan capek,” katanya.
Aku mengangguk pelan.
“Sedikit.”
Dia tidak banyak tanya.
Tapi jelas…
dia tahu ada yang berubah.
Hari itu berjalan lambat.
Terlalu lambat.
Aku mencoba fokus.
Tapi pikiranku—
tidak di sana.
Selalu kembali ke satu tempat.
Kamarnya.
Malamnya…
aku berdiri di depan pintu itu lagi.
Tanpa sadar.
Aku hanya berdiri.
Menatap.
Tidak mengetuk.
Hanya…
menunggu sesuatu yang tidak akan datang.
Aku menghela napas panjang.
Lalu berbalik.
Melangkah pergi.
Untuk pertama kalinya—
aku benar-benar pergi.
Hari-hari berikutnya…
mulai terasa lebih ringan.
Tidak banyak.
Tapi cukup.
Aku mulai kembali ke diriku yang dulu.
Pelan-pelan.
Tapi satu hal tetap ada—
kenangan.
Dan itu…
tidak bisa dihapus.
Suatu malam—
aku mendengar sesuatu.
Tok…
Aku berhenti.
Jantungku langsung berdetak lebih cepat.
Tok… tok…
Aku menoleh ke arah pintu kamarku.
Hening.
Aku tidak bergerak.
Karena aku tahu suara itu.
Terlalu tahu.
Dan untuk beberapa detik…
aku hanya berdiri.
Di antara dua pilihan:
membuka pintu…
atau membiarkannya tertutup.

