Episode 11: Bukan Aku yang Dulu
Aku tidak langsung keluar dari kamarnya malam itu.
Padahal aku bisa.
Pintu tidak dikunci.
Tidak ada yang menahan.
Tapi aku tetap di sana.
Entah karena penasaran…
atau karena aku sudah terlalu jauh.
Dia duduk di lantai, bersandar ke dinding.
Sementara aku masih memegang map itu.
Surat-surat.
Jejak orang-orang sebelum aku.
“Apa kamu masih mau pergi?” tanyanya pelan.
Aku tidak langsung jawab.
Karena anehnya…
pertanyaan itu terasa asing sekarang.
“Aku nggak tahu,” kataku jujur.
Dia tersenyum kecil.
Bukan karena senang.
Tapi seperti… sudah menduga.
“Biasanya di titik ini mereka mulai ragu,” katanya.
Aku duduk di seberangnya.
“Tapi aku belum ragu,” jawabku.
Dia mengangkat alis sedikit.
“Belum,” ulangku.
Hening.
Dan untuk pertama kalinya…
aku menyadari sesuatu.
Aku tidak lagi memikirkan “keluar”.
Aku mulai memikirkan…
bagaimana tetap di sini.
“Apa kamu sadar?” tanyanya tiba-tiba.
“Apa?”
“Kamu mulai berubah.”
Aku tertawa kecil.
“Semua orang berubah.”
Dia menggeleng.
“Bukan seperti ini.”
Hening.
Aku menatap map di tanganku lagi.
Lalu perlahan menutupnya.
“Apa yang terjadi sama mereka… itu pilihan mereka,” kataku.
Dia menatapku.
Lebih serius sekarang.
“Kamu yakin itu cuma pilihan?” tanyanya.
Aku tidak jawab.
Karena untuk sesaat…
aku juga tidak yakin.
Tapi aku tidak ingin menunjukkan itu.
“Aku nggak akan jadi seperti mereka,” kataku pelan.
Dia tersenyum.
Tipis.
“Mereka juga bilang begitu.”
Kalimat itu…
sekarang mulai terasa berulang.
Dan anehnya—
aku mulai tidak peduli.
“Aku bukan mereka,” jawabku lebih tegas.
Hening.
Dia bangkit pelan.
Mendekat.
Sekarang jarak kami sangat dekat.
“Kamu tahu bagian paling berbahaya?” katanya pelan.
Aku menggeleng.
“Bukan saat kamu takut,” lanjutnya.
Dia menatapku dalam.
“Tapi saat kamu mulai nyaman.”
Kalimat itu…
seharusnya membuatku mundur.
Tapi tidak.
Aku tetap di tempat.
“Kalau aku nyaman?” tanyaku.
Dia tidak langsung jawab.
Lalu berkata:
“Berarti kamu sudah masuk terlalu dalam.”
Hening.
Aku menarik napas pelan.
Dan untuk pertama kalinya…
aku tidak merasa itu masalah.
“Aku sudah di dalam,” kataku.
Dia menatapku lama.
Ada sesuatu di matanya.
Bukan kontrol.
Bukan permainan.
Tapi sesuatu yang lebih berbahaya—
ketidakpastian.
“Kamu mulai bikin aku nggak nyaman,” katanya pelan.
Aku tersenyum kecil.
“Bukannya itu yang biasa kamu lakukan ke orang lain?”
Dia diam.
Dan itu…
jawaban yang cukup.

