Episode 10: Yang Tidak Pernah Pergi
Aku masih memegang foto itu.
Wajah-wajah yang sebelumnya asing…
sekarang terasa terlalu dekat.
“Ada berapa orang?” tanyaku pelan.
Dia tidak langsung jawab.
Dia hanya berdiri di dekat jendela, seperti sebelumnya.
“Cukup banyak,” katanya singkat.
Jawaban itu tidak membantu.
“Dan semuanya… pergi?” tanyaku lagi.
Dia tersenyum tipis.
“Kamu masih percaya itu?” katanya.
Aku mengernyit.
“Maksud kamu apa?”
Dia tidak menjawab dengan kata-kata.
Sebaliknya, dia berjalan ke arah lemari kecil di sudut kamar.
Membukanya perlahan.
Aku memperhatikan.
Ada sesuatu yang berubah di udara.
Lebih dingin.
Lebih berat.
Dia mengeluarkan sebuah map tua.
Tipis.
Tapi terlihat sering dibuka.
Dia menyerahkannya ke aku.
“Tadi kamu tanya… mereka ke mana,” katanya pelan.
“Jawabannya ada di situ.”
Jantungku mulai berdetak lebih cepat.
Aku membuka map itu.
Di dalamnya—
bukan foto.
Tapi potongan kertas.
Beberapa di antaranya seperti… surat.
Aku mengambil satu.
Tulisan tangan.
“Aku pikir aku bisa tetap. Tapi aku salah.”
Aku membuka yang lain.
“Dia bilang ini cuma permainan. Tapi aku mulai kehilangan diriku sendiri.”
Tanganku sedikit gemetar.
Aku melihat lagi ke dalam map itu.
Bukan satu.
Bukan dua.
Banyak.
“Ini…” kataku pelan.
Dia menjawab tanpa melihatku:
“Yang sempat nulis.”
Hening.
“Yang lain?” tanyaku.
Dia terdiam.
Dan kali ini… dia tidak menjawab.
Itu lebih menakutkan daripada jawaban apa pun.
Aku menutup map itu perlahan.
“Jadi ini semua…” kataku,
“…bukan cuma kebiasaan.”
Dia menggeleng pelan.
“Ini cara aku bertahan.”
Aku menatapnya.
Lebih serius sekarang.
“Dari apa?”
Dia menoleh.
Dan untuk pertama kalinya…
aku melihat sesuatu yang benar-benar dia sembunyikan.
Takut.
“Dari ditinggalkan,” katanya pelan.
Kalimat itu sederhana.
Tapi semua yang terjadi… langsung terasa masuk akal.
Permainan.
Aturan.
Jarak.
Kontrol.
Semua itu…
bukan untuk mendekat.
Tapi untuk memastikan dia tidak ditinggalkan lebih dulu.
“Aku bikin mereka pergi… sebelum mereka sempat benar-benar pergi,” lanjutnya.
Hening.
Aku menghela napas pelan.
“Dan yang hampir tidak pergi?” tanyaku.
Dia menutup mata.
Beberapa detik.
Lalu berkata:
“Dia yang paling dekat.”
Jantungku terasa berat.
“Dan?” tanyaku.
Dia membuka mata.
Menatapku.
“Dia hampir bikin aku berhenti.”
Hening.
“Tapi dia tetap pergi?” tanyaku.
Dia tersenyum.
Pahit.
“Semua orang pergi.”
Kalimat itu seperti kesimpulan yang sudah dia terima.
Aku melangkah sedikit lebih dekat.
“Aku belum,” kataku pelan.
Dia langsung menatapku.
“Itu yang mereka bilang,” jawabnya.
Aku menggeleng.
“Aku beda.”
Hening.
Untuk beberapa detik…
kami hanya saling menatap.
Lalu dia berkata pelan:
“Kalau kamu tetap…”
Aku menunggu.
“…kamu nggak akan keluar sebagai orang yang sama.”
Udara terasa semakin berat.
Ini bukan lagi tentang dia saja.
Ini tentang aku juga.
Dan untuk pertama kalinya…
aku mulai bertanya dalam hati—
apa aku benar-benar siap?

