Rahasia di Balik Pintu Kos

Permainan ketukan di balik dinding kini berubah menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar iseng. Pola demi pola mulai terasa seperti bahasa rahasia yang hanya mereka berdua pahami. Namun di balik kedekatan itu, perlahan terungkap bahwa wanita misterius tersebut menyimpan masa lalu yang tidak sederhana… dan mungkin berbahaya.

Episode 3: Di Antara Dinding dan Rahasia

Malam berikutnya terasa lebih lama dari biasanya.

Sejak sore, pikiranku sudah dipenuhi satu hal—
ketukan itu.

Dan dia.

Aku bahkan tidak tahu namanya… tapi rasanya seperti ada sesuatu yang terus menarikku kembali ke dinding itu.

Jam menunjukkan hampir tengah malam.

Lampu kamar sudah kupadamkan.
Aku duduk bersandar di dinding yang sama… tempat semua ini dimulai.

Menunggu.

Beberapa detik terasa seperti menit.

Dan akhirnya—

Tok…

Satu ketukan.

Pelan.
Hampir seperti bisikan.

Aku langsung tersenyum.

Tanganku terangkat, lalu membalas.

Tok… tok…

Tidak butuh waktu lama—

Tok… tok… tok…

Balasan yang lebih cepat.

Lebih yakin.

Seperti kemarin… tapi ada sesuatu yang berbeda malam ini.

Ritmenya berubah.

Lebih teratur.
Lebih… personal.


Aku mulai mengikuti pola itu.

Satu ketukan.
Dua ketukan.
Tiga ketukan cepat.

Dan anehnya… aku mulai mengerti.

Ini bukan sekadar iseng.

Ini seperti… bahasa.

Bahasa yang hanya kami berdua pahami.


Tiba-tiba—

Tok… tok… (jeda)… tok…

Aku berhenti.

Pola itu berbeda.

Aku mengernyit, mencoba memahami.

Lalu perlahan… aku membalas dengan pola yang sama.

Sunyi.

Beberapa detik yang terasa lama.

Lalu—

Tok… tok… tok… tok…

Lebih cepat.
Hampir seperti… dia tertawa lewat dinding.

Aku menghela napas pelan.

Permainan ini… makin dalam.


Beberapa saat kemudian, ketukan itu berhenti lagi.

Aku menunggu.

Tidak ada suara.

Tidak ada balasan.

Hening.

Tapi kali ini… aku tidak menunggu terlalu lama.

Aku berdiri.

Keluar dari kamar.


Lorong malam itu lebih gelap dari biasanya.
Lampu di tengah bahkan mati, hanya menyisakan cahaya samar dari dapur.

Aku melangkah pelan.

Dan seperti yang sudah bisa ditebak…

dia sudah ada di sana.

Berdiri di dekat dapur, membelakangiku.

Seolah dia tahu… aku akan datang.

“Kamu cepat belajar,” katanya tanpa menoleh.

Aku tersenyum kecil.
“Atau kamu yang terlalu jelas.”

Dia tertawa pelan.

Lalu berbalik.

Tatapannya kali ini berbeda.

Masih tenang… tapi lebih dalam.

Lebih serius.


“Kamu penasaran nggak?” tanyanya tiba-tiba.

“Penasaran apa?”

Dia melangkah mendekat.

“Kenapa aku bisa langsung ‘klik’ sama kamu… padahal kita baru kenal.”

Aku tidak langsung jawab.

Karena jujur… aku juga memikirkan hal yang sama.

“Ada alasannya?” tanyaku balik.

Dia diam sejenak.

Lalu mengangguk pelan.


“Aku pernah tinggal di tempat kayak gini sebelumnya,” katanya.

“Nggak jauh beda. Dinding tipis. Tetangga dekat.”

Aku menyimak.

“Ada seseorang,” lanjutnya, “yang juga suka ‘ngobrol’ lewat dinding.”

Jantungku berdetak lebih pelan sekarang.

Bukan karena santai… tapi karena suasana berubah.

“Terus?” tanyaku.

Dia tersenyum tipis.

Tapi kali ini… bukan senyum menggoda.

Lebih seperti… menyimpan sesuatu.

“Awalnya sama,” katanya.
“Cuma ketukan. Iseng.”

Dia berhenti sejenak.

Lalu menatapku langsung.

“Tapi lama-lama… jadi kebiasaan.”


Aku bisa merasakan ada sesuatu di balik ceritanya.

Sesuatu yang belum dia bilang.

“Dan akhirnya?” tanyaku pelan.

Dia tidak langsung jawab.

Hanya menatapku beberapa detik.

Lalu…

“Dia pergi.”

Singkat.

Terlalu singkat.


“Pergi gimana?” tanyaku.

Dia mengangkat bahu.

“Ya… pergi aja.”

Nada suaranya santai.

Tapi matanya… tidak.

Ada sesuatu di sana.

Sedikit dingin.

Sedikit… kosong.


Kami sama-sama diam.

Suasana berubah.

Tidak lagi sekadar permainan.

Sekarang… ada cerita di baliknya.


“Tapi kali ini beda,” katanya tiba-tiba.

Aku menatapnya.

“Bedanya?”

Dia melangkah lebih dekat.

Sekarang jarak kami hampir tidak ada.

“Sekarang aku yang mulai duluan,” bisiknya pelan.


Jantungku berdetak lebih cepat lagi.

Bukan karena takut.

Tapi karena aku mulai sadar—

aku sudah terlalu jauh masuk ke dalam permainan ini.


“Dan kamu?” tanyanya.

Aku mengernyit. “Aku kenapa?”

Dia tersenyum tipis.

“Kamu bakal tetap di sini… atau pergi juga?”

Pertanyaan itu sederhana.

Tapi terasa berat.


Aku tidak langsung jawab.

Karena entah kenapa…
aku merasa ini bukan sekadar pertanyaan biasa.


“Aku belum tahu,” kataku akhirnya.

Dia mengangguk pelan.

Seolah jawaban itu cukup.


Tiba-tiba lampu dapur berkedip sekali… lalu kembali normal.

Dia menoleh sebentar.

Lalu kembali ke arahku.

“Bagus,” katanya.

“Berarti permainannya belum selesai.”


Dia berbalik.

Berjalan kembali ke kamarnya.

Tapi sebelum masuk—

dia berhenti.

Menoleh sedikit ke arahku.

“Besok… kita coba sesuatu yang beda,” katanya.

Aku mengangkat alis. “Apa?”

Dia tersenyum.

Pelan.

Menggantung.

“Bukan cuma lewat dinding.”


Klik.

Pintu tertutup.


Aku berdiri di sana.

Sendirian lagi.

Tapi kali ini… bukan cuma rasa penasaran.

Ada sesuatu yang lain.

Sesuatu yang mulai terasa… berbahaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *