Episode 1: Penghuni Baru di Sebelah
Hujan turun tanpa jeda sejak sore.
Air menetes dari atap seng lorong kos, menciptakan suara ritmis yang anehnya bikin malam terasa lebih sunyi dari biasanya.
Aku baru saja selesai mandi ketika suara langkah kaki terdengar mendekat.
Pelan… ragu… lalu berhenti tepat di depan kamar sebelah.
Kamar nomor 12. Sudah kosong hampir dua minggu.
“Permisi… ini nomor 12 ya?”
Suara itu lembut, tapi jelas.
Aku membuka pintu sedikit, sekadar ingin tahu siapa yang datang di jam seperti ini.
Dan di sanalah dia berdiri.
Rambutnya basah, sebagian menempel di pipi. Bajunya sederhana, tapi karena hujan, kainnya melekat cukup jelas mengikuti bentuk tubuhnya. Dia tidak terlihat canggung—justru sebaliknya, seolah sadar aku sedang memperhatikannya.
“Iya… ini nomor 12,” jawabku, berusaha terdengar biasa saja.
Dia tersenyum tipis.
“Saya baru pindah. Kayaknya agak telat ya…”
Aku mengangguk. “Butuh bantuan?”
Dia menatapku beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya.
Tatapan yang… aneh. Bukan sekadar sopan santun. Lebih seperti sedang menilai.
“Kalau nggak merepotkan…” katanya pelan, “koper saya agak berat.”
Aku langsung keluar, membantu mengangkat koper hitamnya yang cukup besar. Saat aku melewatinya di lorong sempit itu, bahunya hampir menyentuh lenganku.
Dan entah kenapa… dia tidak menjauh.
Di dalam kamar, suasana masih berantakan. Kardus-kardus belum dibuka, kasur masih terbungkus plastik.
Aku menaruh kopernya di dekat tempat tidur.
“Terima kasih…” katanya.
Aku mengangguk, bersiap keluar. Tapi sebelum aku benar-benar melangkah, dia kembali bicara.
“Mas… sering begadang?”
Aku berhenti.
“Kadang,” jawabku singkat.
Dia tersenyum lagi. Kali ini sedikit berbeda—lebih santai, lebih… menggoda?
“Bagus. Saya juga susah tidur kalau suasana terlalu sepi.”
Aku tidak langsung menjawab.
Ada jeda.
Hanya suara hujan dan napas kami yang terdengar.
“Kalau malam-malam ada suara… jangan kaget ya,” lanjutnya.
Aku mengernyit. “Suara?”
Dia mengangkat bahu pelan.
“Kadang orang punya cara sendiri buat menghilangkan sepi.”
Kalimat itu sederhana. Tapi cara dia mengatakannya… membuat artinya terasa jauh lebih dalam.
Malam itu aku kembali ke kamar dengan pikiran yang tidak tenang.
Aku mencoba tidur. Mematikan lampu. Menarik selimut.
Tapi benar saja.
Sekitar tengah malam…
dari balik dinding tipis itu… terdengar sesuatu.
Pelan.
Hampir seperti bisikan.
Aku mencoba mengabaikan. Mungkin hanya suara TV. Atau musik.
Tapi semakin lama aku diam, semakin jelas suara itu.
Bukan TV.
Bukan musik.
Dan anehnya… aku tidak ingin berhenti mendengarkan.
Aku duduk di tepi kasur.
Menatap dinding yang memisahkan kami.
Jaraknya hanya beberapa centimeter.
Tapi rasanya seperti ada sesuatu yang jauh lebih dekat dari itu.
Lalu tiba-tiba—
Tok… tok…
Suara ketukan pelan terdengar dari dinding.
Aku membeku.
Beberapa detik kemudian…
ketukan itu terdengar lagi.
Tok… tok…
Seolah… dia tahu aku masih terjaga.
Aku menelan ludah.
Tangan refleks mendekat ke dinding itu.
Ragu sejenak.
Lalu… aku membalas.
Tok…
Sunyi.
Kemudian—
Tok… tok… tok…
Balasan yang lebih cepat.
Lebih berani.
Dan entah kenapa…
malam itu terasa baru saja dimulai.

