Negatif di Cahaya Merah

Di dalam ruang kedap cahaya itu, hanya ada aroma bahan kimia yang menyengat dan pendar merah yang berbahaya. Bagi Elias, mencuci foto bukan sekadar pekerjaan; itu adalah cara ia membedah setiap inci rahasia yang disembunyikan Clarissa di balik gaun suteranya.

Pintu berat darkroom itu tertutup dengan bunyi klik yang final. Di dalam, hanya ada kegelapan pekat yang kemudian perlahan digantikan oleh pendar lampu merah tua yang temaram. Cahaya itu memantul di permukaan cairan kimia dalam bak-bak plastik, menciptakan riak-riak warna darah.

Elias berdiri di depan meja kerja, tangannya yang terampil menjepit selembar kertas foto. Ia merendamnya ke dalam cairan pengembang. Perlahan, sesosok bayangan mulai muncul di permukaan kertas putih itu. Garis rahang, bahu yang terbuka, dan gaun sutra hitam yang melekat di tubuh—itu adalah Clarissa.

“Kau mengambil foto itu tanpa izin, Elias,” suara Clarissa datang dari sudut ruangan yang paling gelap.

Elias tidak menoleh. Ia terus menatap gambar yang sedang “lahir” di dalam bak itu. “Izin hanyalah untuk mereka yang tidak tahu cara mencuri kebenaran, Clarissa.”

Clarissa melangkah mendekat, sepatu hak tingginya tidak bersuara di atas lantai karet. Ia berdiri di samping Elias, menatap fotonya sendiri yang kini terlihat begitu jelas di bawah cahaya merah. Di dalam foto itu, Clarissa tampak sedang menoleh, matanya menunjukkan rasa takut yang bercampur dengan kerinduan—sebuah ekspresi yang ia pikir sudah ia sembunyikan dengan sempurna.

“Kebenaran apa yang kau cari?” bisik Clarissa, jemarinya menyentuh lengan Elias yang digulung hingga siku, memperlihatkan tato garis-garis hitam yang tampak seperti barcode misterius.

Elias menjepit foto itu dan menggantungnya di tali jemuran. Ia berbalik, memerangkap Clarissa di antara dirinya dan meja kimia yang basah. Di bawah cahaya merah yang provokatif, wajah Elias tampak seperti pahatan batu yang dingin.

“Aku mencari saat di mana kau berhenti berpura-pura,” Elias mencondongkan tubuh, napasnya terasa hangat di pipi Clarissa yang pucat. “Malam ini, di ruangan ini, tidak ada kamera. Tidak ada lensa. Hanya ada paparan cahaya yang murni.”

Elias menarik perlahan tali sutra di bahu Clarissa, membiarkan gaun itu sedikit meluncur, mengekspos kulitnya pada pendar merah yang panas. Keheningan di ruangan itu begitu tebal, hanya dipecahkan oleh suara tetesan air dari bak pencuci—seperti detak jam yang menghitung mundur penyerahan total.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *