Lantai kayu kabin tua itu berderit di bawah sepatu bot Elara. Di luar, angin malam menderu di antara celah pohon pinus, membawa aroma tanah basah dan ancaman yang tak terlihat.
Di tengah meja kayu yang kasar, lampu badai kuningan itu berdiri—persis seperti yang ada di tanganmu sekarang. Apinya menari-nari di balik kaca yang kusam, melemparkan cahaya oranye hangat yang kontras dengan kegelapan pekat yang menempel di jendela.
“Kau pikir kau bisa lari dengan membawa kuncinya, Elara?” suara itu datang dari arah pintu. Dingin dan tenang.
Julian berdiri di sana. Bajunya kotor oleh lumpur, dan napasnya memburu. Ia tidak membawa senjata, hanya tatapan yang lebih tajam dari pisau manapun. Julian melangkah mendekat, tangannya yang kasar meraih gagang lampu badai itu.
Ia mengangkat lampu itu sedikit, hingga cahayanya menyinari wajah Elara yang pucat. “Lampu ini adalah satu-satunya hal yang memisahkan kita dari apa yang ada di luar sana. Dan sekarang, kita berdua terjebak di sini.”
Julian meletakkan lampu itu kembali ke meja, namun ia tidak melepaskan gagangnya. Ia mencondongkan tubuhnya, menatap Elara melalui pendar api yang redup. Suasana di dalam kabin itu mendadak menjadi sangat sempit dan panas.
“Kau pengkhianat yang cantik,” bisik Julian, jemarinya yang dingin kini merayap di atas meja, mendekati tangan Elara yang gemetar. “Tapi di hutan ini, pengkhianatan dibayar dengan sesuatu yang lebih mahal daripada emas.”
Elara bisa merasakan panas dari lampu itu di kulitnya, bercampur dengan ketegangan yang memabukkan dari kehadiran Julian. Di luar, suara serigala melolong, namun di dalam kabin, hanya ada suara napas mereka yang saling beradu.
Julian menarik Elara mendekat, hingga punggung wanita itu menyentuh dinding kayu yang kasar. Lampu badai di atas meja itu bergetar hebat saat Julian menumpukan satu tangannya di samping kepala Elara.
“Malam ini panjang, Elara. Dan aku tidak punya niat untuk tidur.”

