Pintu lift berdinding cermin itu terbuka dengan dentuman halus, mengunci kebisingan pesta after-party di lantai bawah. Di depan mereka membentang penthouse pribadi Victor yang minimalis, hanya diterangi oleh pendar cahaya kota Paris yang dingin yang memantul di lantai marmer hitam yang berkilau.
Victor tidak melepaskan cengkeramannya pada bahu Maya. Ia justru mendorongnya pelan ke depan, memaksa Maya melangkah keluar dari kegelapan lift menuju ruang tamu yang luas.
“Aturan terakhir, Maya,” bisik Victor, suaranya tajam namun menuntut. “Di ruangan ini, tidak ada lagi tepuk tangan penonton. Hanya ada aku, kau, dan kebenaran yang baru saja aku lucuti.”
Victor berlutut di belakang Maya, persis seperti di ruang ganti tadi, namun kali ini tidak ada jarum pentul yang menempel di bibirnya. Ia memegang pinggang Maya dengan kedua tangan dinginnya yang memiliki tato benang hitam, menarik kain beludru itu agar menempel ketat di kulit punggung Maya yang panas.
“Malam ini, kau tampil sempurna di sana, Maya,” suara Victor rendah, bergema di ruang sempit lift itu. “Tapi sekarang, aku bosan melihat gaun ini.”
Victor berdiri, kini posisinya sangat dekat di belakang Maya hingga Maya bisa merasakan hembusan napas hangat pria itu di ceruk lehernya yang terbuka. Victor mengulurkan tangannya, jari-jari panjangnya yang memiliki tato benang hitam menyelusup di antara rambut dan kulit Maya, menemukan kepala ritsleting logam di bagian atas punggung.
Dengan gerakan yang sangat lambat—seolah ingin menyiksa Maya dengan setiap detiknya—ia mulai menarik ritsleting itu turun. Sreeeeet. Suara logam yang bergesekan itu terdengar provokatif di ruangan yang sunyi itu. Udara dingin dari ventilasi AC menyentuh kulit punggung Maya saat kain beludru itu perlahan terbuka, menyingkap identitasnya yang paling rapuh di bawah kendali sang maestro.
Gaun itu meluncur turun ke lantai marmer hitam, meninggalkan tumpukan warna merah yang pekat seperti genangan darah. Victor mematikan lampu lift melalui panel kontrol, meninggalkan mereka dalam kegelapan total saat lift berdenting, sampai di lantai paling atas.
(Tamat)

