Beludru Merah di Lantai Marmer Bagian 3: Pelucutan Identitas

Pertunjukan telah usai, namun bagi Victor, malam baru saja dimulai. Di dalam lift pribadi yang berlapis cermin, tidak ada lagi tepuk tangan penonton—hanya suara napas yang memburu dan bunyi logam ritsleting yang ditarik perlahan, meruntuhkan pertahanan terakhir Maya.

Pintu lift berdinding cermin itu tertutup dengan dentuman halus, mengunci kebisingan pesta after-party di luar. Di dalam ruangan sempit yang bergerak naik itu, cahaya lampu neon biru pucat memantul di setiap sudut, menciptakan ilusi tak terbatas dari bayangan mereka berdua.

Maya bersandar di dinding cermin yang dingin, dadanya naik-turun dengan cepat. Beludru merah itu terasa mencekik sekarang. Victor berdiri di hadapannya, masih dengan kemeja hitam yang berantakan dan tatapan yang tidak pernah melepaskannya.

“Kau tampil sempurna di sana, Maya,” suara Victor rendah, bergema di ruang sempit itu. “Tapi sekarang, aku bosan melihat gaun ini.”

Victor melangkah mendekat, mengikis jarak hingga Maya bisa mencium aroma tembakau mahal dan cologne maskulin yang tajam. Tangan dingin Victor yang memiliki tato benang hitam itu merayap ke belakang leher Maya, jemarinya menyelusup di antara rambut dan kulit, memaksa kepala Maya sedikit mendongak.

“Monsieur… ritsletingnya,” bisik Maya, suaranya nyaris hilang, setengah memohon, setengah menantang.

Victor tidak menjawab dengan kata-kata. Ia memutar tubuh Maya hingga wanita itu menghadap cermin, memunggungi dirinya. Di pantulan cermin, Maya bisa melihat mata gelap Victor yang menatapnya dengan rasa lapar yang murni.

Jemari Victor menemukan kepala ritsleting di bagian atas punggung Maya. Dengan gerakan yang sangat lambat—seolah ingin menyiksa Maya dengan setiap detiknya—ia mulai menariknya turun. Sreeeeet. Suara logam yang bergesekan itu terdengar begitu keras di dalam lift yang sunyi.

Udara dingin dari ventilasi lift menyentuh kulit punggung Maya yang panas saat kain beludru itu perlahan terbuka, menyingkap identitasnya yang paling rapuh di bawah kendali sang maestro.

“Malam ini, tidak ada lagi model. Tidak ada lagi desainer,” Victor berbisik tepat di tengkuknya, bibirnya nyaris menyentuh kulit Maya. “Hanya ada aku, kau, dan kebenaran yang baru saja aku lucuti.”

Gaun itu meluncur turun ke lantai marmer lift, meninggalkan tumpukan warna merah yang pekat seperti genangan darah. Victor mematikan lampu lift melalui panel kontrol, meninggalkan mereka dalam kegelapan total saat lift berdenting, sampai di lantai paling atas.

(Bersambung ke Bagian Penutup…)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *