Beludru Merah di Lantai Marmer Bagian 2: Sorotan Panggung yang Menelanjangi

Maju ke lampu panggung berarti menyerahkan diri pada ribuan mata. Bagi Maya, beludru merah karya Victor bukan lagi sekadar gaun; itu adalah jeratan yang menempel ketat di kulitnya, memaksanya menahan napas saat tangan dingin sang maestro membimbingnya di panggung yang berkilau.

Pintu geser menuju backstage terbuka, menghantam mereka dengan gelombang suara musik techno yang memekakkan telinga dan kilatan cahaya strobe yang brutal.

Victor tidak melepaskan cengkeramannya pada bahu Maya. Ia justru mendorongnya pelan ke depan, memaksa Maya melangkah keluar dari kegelapan ruang ganti menuju lorong sempit yang menuju langsung ke panggung utama Paris Fashion Week.

“Ingat aturan pertamaku, Maya,” bisik Victor, suaranya kini terdengar tajam di tengah kebisingan musik. “Kau tidak berjalan untuk mereka. Kau berjalan untukku.”

Maya melangkah maju, merasakan berat beludru merah Victor yang kini menempel ketat di kulitnya. Setiap langkahnya diikuti oleh ribuan mata yang menatap dari kegelapan penonton. Kilatan kamera fotografer berjatuhan di tubuhnya, menelanjangi setiap lekuk gaun karya Victor.

Tiba-tiba, musik berhenti. Suasana menjadi hening, hanya menyisakan detak jantung Maya yang berdegup kencang. Sorotan lampu panggung beralih, menerangi jalan marmer putih di depan Maya.

Victor melangkah keluar dari kegelapan di belakang Maya. Ia tidak memakai pakaian runway; kemeja hitamnya masih digulung hingga siku, memperlihatkan tato benang hitam yang melingkar di pergelangan tangannya.

Victor berjalan di samping Maya, tangan dinginnya kini memegang pergelangan tangan Maya dengan lembut namun mengikat. Ia membimbing Maya di atas jalan marmer yang berkilau, seolah-olah sedang menunjukkan karya terbaiknya pada dunia.

Di ujung panggung, Victor berhenti. Ia membiarkan Maya pose di bawah sorotan lampu panggung yang tajam, memperlihatkan punggungnya yang terbuka dan gaun beludru merah yang sempurna. Victor berdiri di belakang Maya, tangan dinginnya kini memegang bahu Maya dengan tekanan yang intim.

“Kini, dunia tahu bahwa kau adalah milikku malam ini, Maya,” bisik Victor tepat di telinga Maya. “Dan ritsleting gaun ini… hanya aku yang bisa membukanya.”

Maya memejamkan mata saat jemari Victor yang panjang raba sepanjang garis ritsleting di punggungnya. Ia merasakan berat kepemilikan Victor di kulitnya, dan… tanda kepemilikan yang ditinggalkan Victor di kulitnya.

(Bersambung ke Bagian 3…)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *