Sutera Hitam di Balik Meja Jati

Bisikan Renata di telinga Arya malam itu bukan sekadar permintaan, melainkan sebuah jeratan. Di lantai 42 yang sunyi, Arya menyadari bahwa menyelamatkan perusahaannya berarti harus menyerahkan harga dirinya pada wanita yang paling ia benci—sekaligus ia dambakan.

Bagian 2: Permainan Kendali

Keheningan di ruangan itu mendadak terasa menusuk. Kalimat yang baru saja dibisikkan Renata masih terngiang di kepala Arya, lebih tajam dari ancaman kebangkrutan mana pun.

“Kau gila, Renata,” desis Arya. Ia melangkah mundur satu tapak, mencoba mendapatkan kembali ruang pribadinya yang baru saja diinvasi oleh aroma melati yang memabukkan.

Renata tidak bergeming. Ia justru duduk di tepi meja jati milik Arya, membiarkan kain sutera hitam gaunnya tersingkap sedikit, memperlihatkan lengkung kaki yang jenjang di bawah cahaya lampu temaram. “Gila? Mungkin. Tapi aku satu-satunya orang gila yang punya uang 500 miliar untuk menutup lubang di neraca keuanganmu besok pagi.”

Arya mengepalkan tangan di samping tubuhnya. Ia benci betapa wanita ini tahu persis di mana titik lemahnya. “Kau ingin aku menjadi ‘asisten’ pribadimu selama satu minggu di villa pribadimu di Puncak? Tanpa ponsel, tanpa koneksi luar, hanya kau dan aku?”

Renata tertawa kecil, suara tawanya rendah dan menggoda. Ia mengambil sebuah pulpen emas dari meja Arya, memainkannya di antara jemari lenturnya. “Bukan sekadar asisten, Arya. Aku ingin kau melayaniku. Menuruti setiap perintahku. Tanpa bantahan. Tanpa ego ‘CEO’ kebanggaanmu itu.”

Arya mendekat lagi, kali ini dengan tatapan yang menyala. Ia meletakkan kedua tangannya di sisi kiri dan kanan tubuh Renata yang masih duduk di meja, mengurung wanita itu dalam jarak yang sangat intim. “Kau ingin menghancurkanku, bukan? Kau ingin melihatku berlutut?”

Renata mendongak, menatap langsung ke dalam mata Arya yang gelap. Ia bisa merasakan napas pria itu yang memburu di wajahnya. Bukannya takut, Renata justru mengulurkan tangan, merapikan kerah kemeja Arya yang berantakan dengan gerakan yang sengaja diperlambat.

“Aku tidak ingin menghancurkanmu, Arya,” bisik Renata, jemarinya kini menyentuh rahang tegas Arya. “Aku hanya ingin melihat siapa dirimu yang sebenarnya saat semua topeng kekuasaan itu dilepaskan.”

Arya terdiam. Jantungnya berdegup kencang, sebuah simfoni antara amarah dan gairah yang sulit dipisahkan. Di ruangan yang dingin karena AC itu, kulit mereka yang bersentuhan terasa seperti bara api.

“Setuju,” suara Arya akhirnya keluar, berat dan penuh penyerahan yang tertahan.

Renata tersenyum penuh kemenangan. Ia turun dari meja, merapikan gaun suteranya, dan berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, ia menoleh sedikit ke arah Arya yang masih berdiri mematung di dekat meja jatinya.

“Besok pagi jam enam. Mobilku akan menjemputmu. Pakai pakaian yang nyaman, Arya… karena kau akan sangat sibuk melayaniku.”

(Bersambung ke Bagian 3…)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *