Bagian 1: Perjanjian yang Tak Terucap
Lampu kantor pusat Antares Group masih menyala terang meski jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Di ujung ruangan, di balik meja kayu jati yang kokoh, Arya duduk dengan kemeja putih yang dua kancing teratasnya sudah terbuka. Ia tidak sedang melihat laporan keuangan. Matanya terpaku pada siluet wanita yang berdiri membelakanginya, menatap kerlap-kerlip lampu kota dari balik kaca jendela besar.
“Kau tahu, Renata, datang ke kantorku selarut ini adalah sebuah deklarasi perang,” suara Arya rendah, namun cukup kuat untuk menembus keheningan ruangan yang kedap suara itu.
Renata perlahan berbalik. Ia mengenakan terusan sutera hitam yang pas di tubuh, memantulkan cahaya lampu kota yang masuk dari jendela. Ia tidak membawa dokumen. Ia hanya membawa sebuah senyum yang sulit diartikan.
“Aku tidak datang untuk berperang, Arya,” sahut Renata sambil melangkah mendekat. Setiap langkahnya menciptakan bunyi klik yang berirama dari sepatu hak tingginya, sebuah bunyi yang entah mengapa membuat Arya merasa tidak nyaman. “Aku datang untuk menawarkan sesuatu yang tidak bisa kau tolak.”
Renata berhenti tepat di depan meja Arya. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, meletakkan kedua tangannya di atas meja jati itu. Aroma parfum jasmine dan leather yang mahal menyeruak, menyelimuti indra penciuman Arya.
“Perusahaanmu sedang di ujung tanduk. Dan hanya aku yang punya kunci untuk menyelamatkannya,” bisik Renata. Wajahnya kini hanya berjarak beberapa senti dari Arya. “Tapi kau tahu sendiri, hargaku tidak pernah murah.”
Arya berdiri, membuat kursi kerjanya berderit pelan. Ia melangkah memutari meja, berhenti tepat di hadapan Renata. Ia bisa melihat pantulan dirinya di mata wanita itu—seorang pria yang terbiasa memegang kendali, namun kini merasa kendali itu perlahan direbut.
“Apa yang kau inginkan, Renata? Saham? Properti di Singapura?” tanya Arya, suaranya kini lebih serak.
Renata mengulurkan tangannya, menyentuh kerah kemeja Arya dengan ujung jarinya yang lentur. “Aku tidak butuh hartamu, Arya. Aku ingin kau melakukan sesuatu yang selama ini kau sumpah tidak akan pernah kau lakukan.”
Arya menahan napas. Ketegangan di antara mereka bukan lagi soal kontrak atau angka. Ruangan itu terasa tiba-tiba menjadi sangat panas. “Katakan.”
Renata tersenyum, lalu berbisik tepat di telinga Arya, sebuah kalimat yang membuat dunia Arya seolah berhenti berputar malam itu.
(Bersambung ke Bagian 2…)

