Langkah kaki itu berhenti tepat di depan pintu beludru yang terkunci. Lazuardi menarik Elara ke belakang punggungnya, satu tangan mencengkeram kotak cincin biru itu dengan erat, tangan lainnya bersiap menghadapi siapa pun yang ada di balik sana.
“Sudah waktunya kalian berdua berhenti bermain sandiwara,” sebuah suara yang berat dan serak menyusup masuk melalui celah pintu.
Lazuardi mengenali suara itu. Pak Baskara. Pengacara keluarga Elara, pria yang dulu sangat menentang hubungan mereka karena perbedaan status sosial.
“Baskara? Kau yang melakukan ini?” teriak Elara, suaranya gemetar di balik bahu Lazuardi.
“Aku hanya menjaga warisan keluargamu, Elara,” jawab Baskara dari luar, terdengar dingin tanpa penyesalan. “Lazuardi hanyalah gangguan. Surat-surat itu, foto-foto itu… semuanya adalah caraku memastikan kalian tetap terpisah. Karena cinta tidak bisa membangun gedung-gedung perusahaan, tapi kebencian bisa membuatmu fokus pada kekuasaan.”
Pintu jati itu berderit terbuka perlahan. Baskara berdiri di sana, memegang kunci perak yang sama dengan yang jatuh dari tangan Elara. Di belakangnya, fajar mulai menyingsing, membiarkan cahaya biru pucat masuk ke dalam ruangan yang temaram.
“Sekarang, kalian punya pilihan,” Baskara melemparkan selembar dokumen ke lantai marmer. “Lazuardi pergi dari sini dan lupakan semua yang terjadi malam ini, atau aku akan memastikan reputasi bisnis kalian berdua hancur dalam semalam.”
Lazuardi menatap dokumen itu, lalu menatap Elara. Ia melihat air mata yang mengalir di pipi wanita itu—air mata yang bukan lagi karena amarah, tapi karena luka yang dikhianati oleh orang yang dipercayainya.
Lazuardi tidak mengambil dokumen itu. Sebaliknya, ia berlutut di depan Elara, mengabaikan kehadiran Baskara yang berdiri kaku di pintu. Ia mengambil tangan Elara, menyelipkan cincin berlian biru itu ke jari manisnya.
“Tujuh tahun yang lalu, aku membiarkan orang lain menulis akhir cerita kita,” bisik Lazuardi, suaranya tenang namun penuh otoritas. “Mulai detik ini, hanya kita berdua yang memegang penanya. Aku tidak peduli dengan reputasiku. Aku hanya peduli padamu.”
Elara terisak, namun kali ini ia tersenyum. Ia menarik Lazuardi berdiri dan memeluknya erat, mengabaikan dunia yang sedang runtuh di sekitar mereka.
Baskara mendengus sinis, menyadari ancamannya tidak lagi mempan. Ia berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan kunci perak itu tetap tertancap di pintu yang terbuka.
Di bawah pendar fajar yang menyinari Villa Mentari, Lazuardi dan Elara berdiri di balkon, menatap kabut yang perlahan memudar. Bayangan mereka menyatu, menciptakan siluet yang kuat. Penantian itu berakhir di sini, di sebuah akhir bab yang pahit, namun menjanjikan awal yang baru.
— TAMAT —
Terima kasih telah mengikuti serial Lazuardi yang Memudar. Nantikan kisah-kisah narasi lainnya hanya di Cerita Dewasa 18

