Napas Lazuardi memburu. Dinginnya kunci perak yang menyentuh kulit lehernya terasa kontras dengan panas yang menjalar dari telapak tangan Elara yang kini berada di dadanya. Di kegelapan itu, ia hanya bisa melihat kilatan di mata Elara—sebuah perpaduan antara dendam yang murni dan kerinduan yang putus asa.
“Apa yang kau inginkan, Elara? Uang? Penyesalan?” suara Lazuardi parau, bergetar karena emosi yang ia tahan.
“Aku menginginkan apa yang seharusnya menjadi milikku malam itu,” bisik Elara, wajahnya semakin mendekat hingga bibir mereka nyaris bersentuhan. “Kau pergi dengan janji, Lazuardi. Dan kau kembali dengan sebuah cincin untuk orang lain. Kau pikir aku tidak akan tahu?”
Lazuardi terperanjat. Ia menarik diri sedikit, memberikan ruang di antara mereka. “Cincin ini… ini bukan untuk orang lain. Aku tidak pernah bertunangan dengan siapa pun setelah kau pergi.”
Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan. Elara terdiam, tangannya yang tadi mencengkeram jas Lazuardi perlahan mengendur. “Jangan berbohong padaku. Foto-foto itu… kau terlihat bahagia dengan wanita itu di Paris.”
Lazuardi tertawa getir, sebuah tawa yang penuh luka. “Wanita itu adalah pengacara keluargaku, Elara. Kami sedang mengurus surat-surat kematian ayahku. Aku ke Paris bukan untuk mencari penggantimu, tapi untuk mencari tempat pelarian karena aku tidak sanggup terus berada di kota ini tanpa bayanganmu.”
Ia meraba saku jasnya, mengeluarkan kotak beludru kecil itu, lalu membukanya di hadapan Elara. Di tengah keremangan, sebuah berlian biru—warna Lazuardi yang ia sukai—berkilau terkena cahaya sisa perapian.
“Ini cincin yang sama yang aku bawa tujuh tahun lalu ke bawah pohon beringin itu,” suara Lazuardi melembut. “Aku membawanya setiap hari selama tujuh tahun, berharap suatu saat kau akan muncul kembali dari balik kabut.”
Elara terpaku. Kunci perak di tangannya terjatuh ke lantai marmer dengan denting yang nyaring. Tangannya yang gemetar kini menutupi mulutnya. Segala amarah yang ia bangun sebagai benteng pertahanan selama bertahun-tahun runtuh dalam seketika.
“Lalu… surat itu?” tanya Elara lirih. “Surat yang mengatakan kau sudah menemukan kebahagiaan baru?”
“Aku tidak pernah mengirim surat apa pun,” Lazuardi melangkah maju, kini ia yang memegang kendali. “Siapa yang memberikan surat itu padamu?”
Tiba-tiba, dari arah luar pintu yang terkunci, terdengar langkah kaki yang berat. Seseorang sedang berjalan di lorong, dan kali ini, langkah itu bukan milik pelayan tua tadi.
(Bersambung ke Bagian 5 – Final)

